BIOLA
Liburan weekend yang lalu saya sekeluarga pergi ke Bandung untuk menghadiri resepsi pernikahan keponakan.
Selalu saja ada cerita yang menarik tentang Bandung ini. Salah satunya saat mobil saya dihampiri pengamen jalanan ketika berhenti di sebuah lampu merah.
Apa yang biasa kita lakukan saat didekati pengamen? Ambil uang recehan, lalu berikan secepatnya kepada dia agar dia secepatnya juga meninggalkan kita.
Tetapi pengamen yang satu ini berbeda. Dia tidak bernyanyi, melainkan dia justru memainkan biola dengan indahnya. Jarang sekali saya melihat pengamen berbiola. Lebih jarang lagi yang bermain dengan indah.
Apa yang saya lakukan? Tentu saya tahan diri untuk kasih uang agar dia tidak cepat pergi begitu saja. Saya begitu senang menikmati gesekan demi gesekan indah biolanya.
Sampai akhirnya saya berikan juga sejumlah uang kepadanya, tapi kali ini lebih dari sekedar recehan. Saya sadar dia memainkan lagu lebih lama dari pengamen biasanya, tentu pemberian saya juga sudah sepantasnya lebih banyak dari yang biasanya.
Saudara, seperti inilah yang terjadi saat kita memanjatkan doa kepada Allah, lalu dalam waktu yang lama kita tidak juga melihat Allah mengabulkan doa kita.
Sebenarnya Allah begitu senang mendengarkan doa-doa syahdu yang kita lantunkan setiap hari. Allah tidak ingin memberikan begitu saja, sehingga setelah pemberian itu kita lantas berhenti berdoa lagi.
Sebenarnya Allah menyiapkan pemberian yang sangat besar melebihi dari apa yang kita minta. Sebab saat doa kita nantinya akan diijabah lebih lama dari biasanya, berarti Allah akan memberikan lebih banyak dari biasanya pula. Bukan sekedar recehan.
Jadi masih pantaskah kita memiliki sangkaan yang kurang baik kepada Allah?
